Antara Khayalan Dan kenyataan Dalam Hidup Menuju Kehidupan

Minggu, 25 Desember 2011

INDAHNYA KATA MAAF


Kendati memiliki segudang kesalahan, tak semua orang mampu meminta maaf dengan dengan rendah hati. Sebaiknya, cukup banyak orang yang hanya sekedar mengatakan “kumaafkan”. Tapi tak ikhlas melakukannya.
Ya, ajaran agar kita mudah memberikan maaf atau tak segan untuk meminta maaf, ternyata tak mudah untuk menerapkannya dalam kehidupan. Apalagi jika kita merasa bahwa orang tersebut memiliki salah yang lebih besar dari kita.
Putra NestapaSeperti cerita Corel yang sedang perang dingin dengan sahabatnya. “gengsi dong kalau gue duluan yang minta maaf, sebab waktu itu dia duluan yang memulai”.
Masalahnya berawal ketika Sinyo, sahabatnya sedang ada problem dengan teman dekatnya, ia bermaksud curhat pada Corel. Eh Corel malah marah-marah nggak karuan. “Saya nggak punya waktu untuk urusan problemmu,” katanya. Sejak saat itulah Corel dan Sinyo tidak bertegur sapa. Mereka enggan untuk saling memaafkan.
Memaafkan merupakan bentuk dari keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang. Memaafkan merupakan proses pembersihan diri dari beragam persoalan yang sudah saatnya untuk ditinggalkan. Baik persoalan yang sudah dianggap selesai maupun persoalan yang masih dalam proses.
Pada umumnya, orang mempunyai kapasitas terbatas dalam menyimpan persoalan. Dengan memaafkan terjadi pembongkaran “Stok” masalah. Sehingga tekanan jiwa juga bisa lebih diringankan.

Menurut hemat saya, kebahagiaan dalam hidup hanya dimiliki oleh orang-orang yang mudah memaafkan biasanya akan memudahkan menimbulkan friksi emosional, pembatasan diri dalam berhubungan dengan orang lain dan tidak jarang menimbulkan depresi.
Dengan memaafkan, penyelesaian masalah bisa sejalan bisa juga tidak berkaitan satu sama lain. Artinya adakalanya kita perlu memaafkan meskipun persoalannya sedang dalam proses penyelesaian.
Pada umumnya orang baru bisa memaafkan bila persoalan telah dianggap selesai. Padahal, konotasi selesai atau tidaknya masalah bersifat relatif karena akan sangat bergantung pada subyektifitas masing-masing. Memang diperlukan kebesaran jjiwa untuk memaafkan orang lain. Dan bila itu terlaksana alangkah indahnya kata-kata maaf yang terlahir dari ketulusan hati.
Memang pada awalnya sulit untuk memulainya sebab segalah sesuatunya akan lebih nyaman bila dikomunikasikan secara verbal.  Sahabat kita bukan peramal. Dia tidak bisa mengetahui isi hati kita yang sesungguhnya. Meski perilaku sudah menunjukkan/mencerminkan permintaan maaf, kalau sahabat kita tidak tahu, tetap saja buntu, sahabat kita mengira kita tidak berubah.
Nah, teman-teman pasti bisa memaafkan orang lain yang jelas-jelas pernah menyakiti kita. Tentu tak harus menunggu lebaran tiba. Ayo mulai sekarang juga. Alangkah indahnya kata maaf itu, sobat.
posted by Mhyron Thapshec at 03.30

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home